Yen Jepang melemah ke atas level 156,5 per Dolar AS di tengah memanasnya hubungan antara Jepang dan China.
Tekanan terhadap Yen muncul setelah China memberlakukan pembatasan ekspor terhadap sejumlah produk yang berpotensi digunakan untuk keperluan militer ke Jepang. Kebijakan tersebut merupakan respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait Taiwan yang disampaikan pada tahun lalu. Pembatasan mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari perangkat elektronik dan sensor hingga teknologi yang digunakan dalam sektor pelayaran dan kedirgantaraan.
Meski demikian, risiko geopolitik global secara umum dinilai tidak terlalu mengguncang pasar mata uang. Perkembangan terbaru seperti keterlibatan AS di Venezuela tercatat hanya memberikan dampak terbatas terhadap pergerakan mata uang major.
Dari dalam negeri, perhatian investor tetap tertuju pada kebijakan moneter Jepang. Pasar masih berspekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan kembali menaikkan suku bunganya pada tahun ini. Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, menegaskan bahwa setiap penyesuaian kebijakan akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan inflasi, sesuai dengan proyeksi bank sentral. Ia juga menyampaikan optimismenya bahwa perekonomian Jepang akan mampu mempertahankan siklus positif berupa kenaikan upah yang diikuti dengan kenaikan harga secara berkelanjutan.


