Harga emas kembali mencatatkan rekor tertinggi – menembus level $4800 per troy ons, seiring kian memanasnya tensi geopolitik terkait Greenland.
Lonjakan ini dipicu oleh sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tetap kukuh dengan rencananya untuk mengakuisisi wilayah Arktik tersebut. Saat menghadiri World Economic Forum di Davos, Trump menegaskan bahwa langkah itu masih menjadi prioritas. Perdana Menteri Greenland bahkan mengimbau warganya untuk bersiap menghadapi kemungkinan langkah militer, meskipun ia menilai skenario tersebut kecil kemungkinannya terjadi.
Situasi kian memanas setelah Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10% terhadap sejumlah negara Eropa mulai 1 Februari. Tarif tersebut berpotensi dinaikkan hingga 25% pada bulan Juni jika tidak tercapai kesepakatan terkait status Greenland.
Dari Asia, gejolak di pasar obligasi pemerintah Jepang turut menambah daya tarik emas. Anjloknya harga surat utang pemerintah Jepang memicu kekhawatiran seputar kesehatan fiskal negara-negara maju, sehingga mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas.
Sementara itu, para pelaku pasar juga menantikan rilis data PCE Amerika Serikat yang sempat tertunda dan dijadwalkan untuk dirilis pada akhir pekan ini. Data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di masa mendatang.
