Harga minyak mentah WTI kembali melemah dan diperdagangkan di bawah level $56 per barel. Kondisi ini terjadi di tengah belum meredanya kekhawatiran atas surplus pasokan dan memanasnya tensi geopolitik global.
Sepanjang pekan ini, harga minyak sempat menyentuh titik terendah dalam kurun hampir lima tahun. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran seputar surplus pasokan, terlebih setelah OPEC+ meningkatkan produksi minyaknya secara bertahap, serta meningkatnya produksi minyak di negara-negara non-OPEC.
Dari sisi permintaan, tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di beberapa negara, termasuk China dan Amerika Serikat. Kondisi ini semakin menekan harga minyak, yang sepanjang tahun ini telah turun sekitar 20%.
Meski demikian, memanasnya tensi geopolitik sedikit menahan penurunan harga minyak. Kekhawatiran akan potensi terjadinya gangguan pasokan muncul setelah Amerika Serikat menghentikan seluruh aktivitas maritim yang melibatkan kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan terkait dengan Venezuela.
Selain itu, AS juga berencana untuk memperketat sanksi terhadap sektor energi Rusia sebagai bagian dari upaya mendukung proses perdamaian di Ukraina. Langkah serupa diambil oleh Inggris yang memberlakukan sanksi terhadap tiga produsen minyak Rusia berskala kecil.
