Harga minyak mentah WTI diperdagangkan di sekitar level $62.2 per barel setelah sempat turun empat hari berturut-turut. Pergerakan harga minyak saat ini dipengaruhi oleh adanya kekhawatiran seputar kelebihan pasokan di tengah berlanjutnya ketidakpastian terkait pasokan minyak dari Rusia.
Menurut sebuah laporan, Irak kemungkinan akan kembali melakukan ekspor minyak melalui wilayah Kurdistan. Ekspor melalui wilayah tersebut telah berhenti selama lebih dari dua tahun akibat adanya sengketa pembayaran. Jika kembali beroperasi, ekspor minyak Irak berpotensi meningkat sekitar 230,000 barel per hari.
Selain itu, Irak juga tercatat telah meningkatkan ekspor minyaknya sesuai dengan kesepakatan OPEC+, di mana pengiriman minyak Irak pada bulan September diproyeksikan sekitar 3.4 hingga 3.45 juta barel per hari. Kondisi ini semakin memperkuat kekhawatiran seputar pasokan, terutama di tengah memburuknya prospek permintaan minyak global.
Sementara itu, perhatian para investor juga tertuju pada upaya pembatasan ekspor minyak Rusia. Uni Eropa baru saja mengusulkan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia, termasuk melarang impor gas alam cair (LNG) dari negara tersebut. Paket sanksi ini juga mencakup pembatasan terhadap 118 kapal bayangan, serta perusahaan asal Tiongkok dan negara lain yang membeli minyak dari Rusia.
