Harga minyak mentah WTI bertahan di sekitar level $65.7 per barel pasca AS menjatuhkan sanksi baru dan adanya kekhawatiran seputar prospek pasokan minyak global.
AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan pelayaran dan kapal yang terkait dengan seorang pengusaha Irak-Kittitian lantaran diduga terlibat dalam pengiriman minyak Iran yang disamarkan sebagai minyak Irak.
Kekhawatiran seputar prospek pasokan juga meningkat setelah serangan drone yang dilancarkan oleh Ukraina membuat salah satu kilang minyak Rusia berhenti beroperasi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan.
Di sisi lain, sebuah data mengungkapkan bahwa persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu turun hampir 1 juta barel. Akan tetapi, angka tersebut lebih rendah dari perkiraan turun sekitar 1.7 juta barel.
Kenaikan harga minyak sedikit tertahan oleh mengecewakannya salah satu data ekonomi terbaru AS. Aktivitas manufaktur AS dilaporkan kembali turun untuk bulan keenam berturut-turut – dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
Ke depan, fokus para investor akan tertuju pada pertemuan OPEC+ pada 7 September mendatang. Kendati demikian, para analis memperkirakan OPEC+ tidak akan mengubah kebijakan produksinya dalam waktu dekat.
