Yen Jepang diperdagangkan di sekitar level 152 per Dolar AS pasca data ekonomi Jepang terbaru membukukan hasil yang mengecewakan.
Pesanan mesin inti Jepang, yang merupakan indikator belanja modal, dilaporkan mengalami penurunan.
Selain itu, Jepang melaporkan defisit perdagangan yang lebih besar dari perkiraan, di mana impor lebih tinggi dari ekspor.
Meskipun demikian, Yen ditopang oleh ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunganya lebih lanjut pada tahun ini, meskipun masih ada ketidakpastian tentang apakah bank sentral akan kembali menaikkan suku bunganya pada bulan Maret.
Secara eksternal, Yen tertekan oleh menguatnya Dolar AS, yang dipicu oleh ancaman kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
Trump baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk memberlakukan tarif atas impor mobil sebesar 25%, serta memberlakukan bea masuk yang serupa untuk impor semikonduktor dan farmasi.