Yen Jepang diperdagangkan di sekitar level 156,6 per Dolar AS setelah sempat mencatatkan pelemahan dua hari berturut-turut. Sejauh ini, posisi Yen masih berada di sekitar level terendah dalam kurun sepuluh bulan terakhir – kondisi yang kembali memicu spekulasi dan desakan agar pemerintah melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Peringatan lisan yang disampaikan pemerintah Jepang pada bulan lalu sempat berhasil menahan pelemahan Yen. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa pemerintah memiliki kebebasan penuh untuk bertindak menghadapi pergerakan nilai tukar yang dinilai berlebihan. Namun, kekhawatiran terhadap potensi pelemahan Yen belum sepenuhnya mereda.
Tekanan terhadap pemerintah juga datang dari kalangan pelaku usaha. Para pemimpin kelompok lobi bisnis Jepang mendesak pemerintah agar mengambil langkah konkret untuk mengatasi pelemahan mata uang dan mendorong penguatan Yen, mengingat dampaknya terhadap biaya impor dan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Di sisi lain, kebijakan fiskal Jepang yang longgar terus menjadi sorotan. Beban utang publik negara tersebut telah melampaui dua kali lipat ukuran perekonomian nasional, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal negara tersebut. Baru-baru ini, kabinet menyetujui anggaran belanja sebesar 122,3 triliun Yen yang diajukan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Anggaran tersebut dirancang untuk tetap mendorong pertumbuhan melalui belanja agresif, sembari mengendalikan risiko utang dengan membatasi penerbitan obligasi baru.
