Harga minyak mentah bergerak relatif stabil, di mana kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) bertahan di sekitar level $58,2 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah harga sempat bergejolak pada perdagangan hari sebelumnya, sebelum akhirnya ditutup menguat sekitar 1,7% seiring memanasnya tensi geopolitik yang melibatkan Venezuela.
Para investor terus mencermati dampak langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela dan potensi pengaruhnya terhadap pasokan minyak global. Meski Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, sejumlah analis menilai gangguan terhadap ekspor negara tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak di pasar internasional. Kontribusi Venezuela terhadap pasokan global dinilai sangat kecil, terutama akibat penurunan produksi selama bertahun-tahun.
Kurangnya investasi yang berkepanjangan telah membuat produksi minyak Venezuela menyusut hingga berada di bawah 1% dari total output dunia. Kondisi ini membatasi kemampuan negara tersebut untuk memengaruhi keseimbangan pasar minyak secara keseluruhan, meskipun isu geopolitik terus menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi pasokan yang masih melimpah. Situasi ini telah mendorong Arab Saudi untuk kembali memangkas harga jual minyak ke pasar Asia untuk bulan ketiga berturut-turut, sebagai upaya menjaga daya saing di tengah belum pulihnya permintaan.
Sementara itu, pertemuan OPEC+ yang berlangsung pada hari Minggu lalu memutuskan untuk mempertahankan rencana penundaan kenaikan produksi pada Q1 2026. Kebijakan ini menunjukkan kehati-hatian OPEC+ dalam mengelola keseimbangan pasar, di tengah adanya ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik.


