Harga minyak mentah WTI melanjutkan tren positifnya, dan saat ini diperdagangkan di sekitar level $64.5 per barel – level tertinggi dalam dua pekan.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran seputar pasokan pasca Ukraina kian intensif dalam melancarkan serangan drone terhadap kilang serta fasilitas ekspor minyak Rusia. Salah satu sumber anonim mengatakan bahwa Transneft sempat memperingatkan potensi pemangkasan produksi, namun Transneft kemudian membantah kabar tersebut dan menyebutnya sebagai disinformasi dari pihak Barat.
Selain faktor konflik, harga minyak juga ditopang oleh adanya kemungkinan sanksi tambahan dari negara-negara Barat terhadap Rusia, termasuk kemungkinan sanksi yang lebih ketat terhadap para pembeli minyak mentah Rusia.
Di sisi lain, investor menantikan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Bank sentral AS tersebut diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya, di mana keputusan tersebut diharapkan mampu merangsang aktivitas ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak.
Sementara itu, sebuah data mengungkapkan bahwa persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu turun sekitar 3.42 juta barel – jauh lebih besar dari perkiraan turun sebesar 1.6 juta barel.
