Harga minyak mentah WTI menguat ke sekitar level $64 per barel setelah persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun.
Dilansir dari American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS pada pekan lalu turun sekitar 3.8 juta barel – penurunan terbesar dalam kurun tujuh pekan terakhir. Kondisi ini diperparah dengan mandeknya pembahasan mengenai rencana ekspor minyak dari Kurdistan, Irak, setelah dua produsen minyak besar menuntut jaminan pembayaran utang. Akibatnya, pengiriman minyak melalui jalur pipa ke Turki tetap terhenti sejak Maret 2023.
Faktor geopolitik juga turut menopang harga minyak. NATO berjanji akan memberikan respons “tegas” atas pelanggaran wilayah udara oleh Rusia, sementara Ukraina melancarkan serangan drone ke kilang dan pipa minyak milik Rusia.
Di tempat terpisah, Chevron hanya akan mengekspor sekitar setengah dari total produksi 240,000 barel per hari (bph) yang dihasilkan bersama mitranya di Venezuela. Pembatasan ini terjadi setelah otoritas AS memberikan izin terbatas kepada Chevron untuk beroperasi di negara yang tengah dikenai sanksi tersebut, termasuk larangan penuh untuk mengirimkan minyak mentah berat ke AS.
