Yen Jepang kembali melemah ke sekitar level 157 per Dolar AS seiring menguatnya Dolar AS dan meningkatnya risiko geopolitik.
Dolar AS juga tercatat menguat terhadap sejumlah mata uang major lainnya. Data ekonomi terbaru Amerika Serikat menunjukkan hasil yang beragam sehingga belum memberikan petunjuk yang jelas terkait arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Kondisi ini membuat para pelaku pasar cenderung bertahan pada aset berdenominasi Dolar lantaran dianggap lebih aman.
Dari sisi geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada memburuknya hubungan antara Jepang dan China. Pemerintah China baru-baru ini memberlakukan pembatasan ekspor terhadap produk yang dapat digunakan untuk keperluan militer ke Jepang. Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap perdagangan dan stabilitas kawasan, yang pada akhirnya turut membebani Yen.
Sementara itu, dari dalam negeri Jepang, sentimen negatif datang dari turunnya upah riil. Data terbaru mengungkapkan bahwa upah riil turun 2,8%, lantaran laju inflasi jauh melampaui pertumbuhan upah. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bank of Japan (BoJ) yang tengah merencanakan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Sebelumnya, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menegaskan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga apabila kondisi ekonomi dan inflasi bergerak sesuai dengan proyeksi. Namun, melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi dinilai dapat mempersulit langkah tersebut dalam waktu dekat.


