Hoarding

Apa itu Hoarding?

Hoarding adalah pembelian dan penyimpanan dalam jumlah besar suatu komoditas oleh seorang spekulan dengan niat untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga di masa depan.

Istilah hoarding paling sering diterapkan pada pembelian komoditas, terutama emas. Namun, hoarding kadang-kadang digunakan dalam konteks ekonomi lainnya. Misalnya, pemimpin politik mungkin mengeluh bahwa spekulan sedang hoarding dolar selama krisis mata uang.

Memahami Hoarding

Hoarding sering dikritik karena menciptakan kekurangan barang di ekonomi nyata. Hoarding dapat menciptakan siklus spekulasi, ramalan yang menjadi kenyataan, dan inflasi.

Jika beberapa individu kaya mulai hoarding gandum, harga akan mulai meningkat. Pedagang kelas menengah akan menyadari hal ini, dan mereka mungkin akan menahan pasokan gandum dengan harapan harga akan naik di masa depan. Itu sudah cukup untuk menaikkan harga lagi. Pembelian panik dapat menciptakan kekurangan gandum yang nyata di beberapa lokasi. Orang termiskin di beberapa negara bahkan bisa berisiko kelaparan jika siklus ini berlanjut lebih jauh.

Hoarding kadang-kadang disalahkan atas kekurangan yang sebenarnya disebabkan oleh kontrol harga, nilai tukar tetap, dan kebijakan pemerintah lainnya.

Hoarding yang Ilegal

Hukum sering kali diberlakukan untuk melawan jenis-jenis hoarding tertentu guna mencegah tragedi dan mengurangi ketidakstabilan ekonomi. Jika seorang spekulan berniat untuk menguasai atau memonopoli suatu komoditas, maka itu dapat dianggap sebagai tindakan ilegal. Sayangnya bagi pedagang dan regulator, terkadang sulit untuk membedakan hoarding dari upaya yang tidak sah untuk memanipulasi pasar.

Memiliki lebih dari $100 emas batangan, koin, atau sertifikat menjadi tindakan kriminal yang disebut hoarding pada tahun 1933. Menyimpan emas batangan menjadi legal lagi di AS pada tahun 1974.

Hoarding vs. Investasi 

Hoarding sering dianggap merugikan karena menghalangi komoditas untuk digunakan dalam ekonomi lainnya. Investasi dapat membantu perusahaan untuk memproduksi lebih banyak komoditas dan produk lainnya.

Investor legendaris Warren Buffett berkata tentang emas: “(Itu) digali dari tanah di Afrika atau tempat lain. Kemudian kita melelehkannya, menggali lubang lagi, menguburnya kembali, dan membayar orang untuk berjaga di sekitarnya. Itu tidak memiliki kegunaan. Siapa pun yang mengamati dari Mars pasti akan menggaruk kepalanya.”

Dalam jangka panjang, investasi di saham telah mengalahkan hoarding komoditas. Meskipun demikian, ada tahun-tahun dan dekade-dekade di mana komoditas memberikan pengembalian yang lebih tinggi daripada saham.

Contoh Hoarding di Market

Hoarding Perak/Silver

Salah satu kasus hoarding paling terkenal terjadi di pasar perak pada tahun 1970-an dan 80-an ketika saudara Hunt mencoba hoarding perak untuk menguasai pasar. Nelson Bunker Hunt dan William Herbert Hunt dengan tepat memprediksi inflasi yang meningkat, tetapi mereka menggunakan leverage berlebihan dan tidak siap ketika harga jatuh.

Selama tahun 1970-an, saudara Hunt membeli sebagian besar inventaris perak fisik yang tersedia di pasar dan kemudian beralih ke kontrak berjangka. Harga perak kurang dari dua dolar per ounce ketika mereka memulai pada tahun 70-an. Pada awal tahun 1980, saudara Hunt berhasil menaikkan harga perak hingga hampir $50 per ounce. Pada saat itu, saudara Hunt tidak lagi mampu meminjam uang yang mereka butuhkan untuk terus membeli perak dan menaikkan harga.

Akhirnya, saudara Hunt harus mulai menjual, dan kepanikan yang terjadi menyebabkan harga perak anjlok. Pada tahun 1988, Nelson Bunker Hunt dan William Herbert Hunt menyatakan bangkrut.

Hoarding Tembaga/Copper

Yasuo Hamanaka, seorang pedagang komoditas di Sumitomo Corporation, dikenal sebagai Mr. Copper setelah ia mencoba memanipulasi harga tembaga melalui hoarding. Ia menghabiskan tujuh tahun di penjara setelah lebih dari sepuluh tahun melakukan transaksi tembaga tanpa izin pada tahun 1990-an yang menyebabkan kerugian lebih dari $2,6 miliar.

Pada satu titik, ia menguasai hingga 5% dari total pasokan tembaga dunia. Para pedagang mulai menyebutnya sebagai “Mr. Copper” atau “Raja Tembaga.”

HODL’ing

HODL adalah istilah yang berasal dari kesalahan penulisan kata “hold” yang merujuk pada strategi beli-dan-tahan dalam konteks bitcoin dan cryptocurrency lainnya. Istilah ini menggambarkan perilaku hoarding oleh pemegang cryptocurrency untuk mengumpulkan dan tidak menjual atau menggunakannya dalam pertukaran.

Karena mata uang digital seperti bitcoin bersifat langka dan memiliki tingkat pembentukan unit baru yang terbatas, strategi hoarding meningkatkan kelangkaan relatif dan dapat mendorong kenaikan harga.

Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya

Baca Juga