Di dunia trading dan investasi, ada banyak istilah teknis yang kadang bikin bingung. Salah satu istilah yang sering muncul, terutama saat kamu mulai serius mengatur strategi beli-jual aset, adalah limit order. Meski terdengar rumit, sebenarnya konsep ini cukup sederhana—dan justru bisa jadi alat yang sangat berguna buat kamu yang ingin lebih terkontrol dalam mengambil keputusan.
Limit order bukan cuma soal memasang harga, tapi juga soal bagaimana kamu mengelola risiko, menghindari fluktuasi harga yang ekstrem, dan tetap tenang di tengah hiruk-pikuk pasar. Dalam artikel ini, kita akan bahas tuntas apa itu limit order, bagaimana cara kerjanya, dan kenapa banyak trader maupun investor lebih memilihnya dibanding jenis order lainnya.
Apa Itu Limit Order?
Limit order adalah instruksi yang kamu berikan kepada broker atau platform trading untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu atau yang lebih baik. Ini artinya kamu menetapkan batas harga maksimum saat membeli, atau batas harga minimum saat menjual. Transaksi hanya akan terjadi kalau harga pasar menyentuh atau melewati batas yang kamu tetapkan.
Misalnya kamu ingin beli saham PT XYZ. Saat ini harganya Rp10.000 per lembar. Tapi kamu merasa harga segitu terlalu mahal. Nah, kamu bisa pasang limit order di Rp9.500. Jadi, order itu baru akan tereksekusi kalau harga sahamnya turun sampai Rp9.500 atau lebih rendah. Kalau nggak? Ya, order-nya bakal tetap nunggu sampai harga sesuai—atau nggak tereksekusi sama sekali.
Sebaliknya, kalau kamu mau jual saham dan berharap dapat untung lebih, kamu bisa pasang limit order jual di harga yang lebih tinggi dari harga sekarang. Misalnya harga sahamnya sekarang Rp10.000, tapi kamu pasang limit jual di Rp11.000. Maka order jual itu baru akan terjadi kalau harga naik ke Rp11.000 atau lebih.
Perbedaan Limit Order dan Market Order
Supaya makin jelas, kamu perlu tahu perbedaan dasarnya dulu.
Market order adalah perintah untuk beli atau jual di harga terbaik yang tersedia saat itu juga. Cepat, langsung, dan dijamin tereksekusi—tapi kamu nggak bisa nentuin harganya. Cocok kalau kamu butuh transaksi cepat, misalnya karena berita penting atau pergerakan harga yang drastis.
Limit order, di sisi lain, adalah tentang kesabaran dan strategi. Kamu menentukan harga, dan sistem akan menunggu sampai harga itu tercapai. Bisa jadi butuh waktu, dan mungkin juga nggak tereksekusi sama sekali kalau pasar nggak bergerak ke arah yang kamu harapkan.
Cara Kerja Limit Order
Bayangin kamu lagi duduk santai sambil pantau aplikasi trading. Kamu lihat saham ABC yang biasanya naik turun cukup tajam setiap hari. Hari ini harganya sedang naik, dan kamu tertarik untuk menjual beberapa lot saham yang kamu punya. Tapi kamu nggak mau buru-buru jual di harga sekarang karena kamu yakin harganya bisa naik lebih tinggi. Nah, kamu pun pasang limit order jual di harga yang kamu inginkan, misalnya Rp12.000.
Selama harga pasar belum mencapai Rp12.000, order kamu belum akan dieksekusi. Tapi begitu harga itu disentuh, order-nya langsung tereksekusi secara otomatis—nggak perlu kamu klik-klik lagi.
Hal yang sama berlaku untuk beli. Kamu bisa pasang limit order beli di harga lebih rendah dari harga pasar saat ini, dan tinggal tunggu sampai harga turun ke level itu. Ini membantu kamu beli di harga yang kamu anggap wajar atau lebih murah.
Kenapa Banyak Trader dan Investor Suka Pakai Limit Order?
Salah satu alasan utama kenapa limit order banyak dipakai adalah untuk menghindari fluktuasi harga. Pasar, terutama pasar kripto dan saham-saham kecil, bisa sangat fluktuatif. Dalam hitungan detik, harga bisa melonjak atau anjlok drastis. Kalau kamu pakai market order, bisa jadi kamu beli terlalu mahal atau jual terlalu murah tanpa sempat berpikir panjang.
Dengan limit order, kamu bisa tetap tenang. Kamu nggak perlu terpancing emosi atau FOMO. Kamu tinggal pasang harga yang kamu rasa pas, dan biarkan sistem bekerja untuk kamu.
Limit order juga berguna untuk strategi investasi jangka panjang. Misalnya kamu punya daftar saham yang kamu incar, tapi kamu hanya mau beli kalau harganya turun sampai level tertentu. Kamu tinggal pasang limit order untuk masing-masing saham itu, dan tinggal tunggu. Nggak perlu mantengin grafik tiap menit.
Kekurangan Limit Order
Satu hal penting yang harus kamu ingat: limit order tidak selalu tereksekusi. Kalau harga pasar nggak pernah mencapai level yang kamu tentukan, order kamu akan tetap “menggantung”. Ini bisa jadi masalah kalau kamu terlalu kaku dalam menentukan harga.
Kadang kamu juga bisa kehilangan momen bagus. Misalnya kamu ingin beli saham di harga Rp9.000, tapi harga hanya sempat turun sampai Rp9.050 sebelum naik lagi. Karena order kamu di Rp9.000, maka kamu ketinggalan kesempatan beli.
Jadi, limit order memang kasih kontrol, tapi kamu juga harus realistis dan fleksibel. Terlalu idealis soal harga bisa bikin kamu nggak kebagian saham yang kamu incar.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Limit Order?
Kamu bisa mempertimbangkan menggunakan limit order dalam beberapa kondisi:
- Saat pasar sedang fluktuatif, dan kamu nggak mau terbawa arus emosi. Limit order bisa bantu kamu tetap berpegang pada rencana awal.
- Kalau kamu punya strategi harga tertentu. Misalnya kamu cuma mau beli saham A kalau harganya di bawah Rp5.000, atau kamu cuma mau jual aset kripto kalau sudah untung 15%. Dengan limit order, order kamu akan tereksekusi secara otomatis setelah harga mencapai target.
- Untuk melakukan transaksi di luar jam aktif. Beberapa pasar, seperti saham, punya jam buka-tutup. Kalau kamu pasang limit order di luar jam itu, sistem akan menyimpannya dan mengeksekusinya saat pasar buka, jika harganya sesuai.
- Ketika kamu nggak bisa terus-terusan memantau pasar. Daripada mantengin layar terus, kamu bisa pasang limit order dan biarkan sistem bekerja.
Kesimpulan
Dunia trading dan investasi itu dinamis banget. Harga bisa berubah cepat, dan kalau kamu nggak punya rencana yang jelas, kamu bisa rugi hanya karena keputusan impulsif. Di sinilah limit order bisa jadi teman baikmu.
Dengan limit order, kamu bisa tetap tenang, tetap disiplin, dan tetap pada jalur yang kamu tentukan sendiri. Memang nggak selalu langsung berhasil, tapi itu bagian dari strategi jangka panjang.
Jadi, kalau kamu belum pernah coba limit order, nggak ada salahnya mulai eksperimen kecil. Pahami cara kerjanya, uji coba dengan jumlah kecil, dan lihat bagaimana ini bisa bantu kamu jadi trader atau investor yang lebih bijak.
Selamat mencoba, dan semoga transaksi kamu makin terarah!