Harga emas melonjak lebih dari 1% ke sekitar level $4570 per troy ons – kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik global serta adanya kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve.
Situasi di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama. Ketua Parlemen Iran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan intervensi, terlebih setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan di tengah terjadinya gelombang protes besar di Iran yang dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.
Dari dalam negeri AS, pelaku pasar mengkhawatirkan independensi The Fed setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman (DOJ) telah melayangkan panggilan resmi (subpoena) kepada bank sentral dan bahkan mengancam dengan dakwaan pidana.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga juga turut menopang harga emas. Data ketenagakerjaan AS terbaru mengungkapkan bahwa pertumbuhan jumlah lapangan kerja melambat lebih dari perkiraan. Ke depan, fokus para investor akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat untuk mencari petunjuk lebih lanjut terkait arah kebijakan moneter The Fed di masa mendatang.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS belum mengeluarkan putusan terkait gugatan atas kebijakan tarif Presiden Trump dan menjadwalkan pengumumuman pendapat berikutnya pada hari Rabu.


