Harga emas diperdagangkan di sekitar level $4360 per troy ons pada perdagangan terakhir di tahun 2025 – berpotensi menutup tahun dengan kinerja luar biasa, dan berpotensi mencatatkan kenaikan tahunan terbesar dalam kurun lebih dari 40 tahun. Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 66%, ditopang oleh kombinasi faktor ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut.
Kenaikan harga emas semakin tajam sejak akhir April, atau bertepatan dengan pengumuman kebijakan tarif baru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah tersebut dikhawatirkan akan memperlambat aktivitas perdagangan internasional, dan mendorong investor beralih ke aset safe haven. Selain itu, sentimen positif terhadap emas juga diperkuat oleh pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat, berlanjutnya pembelian emas oleh bank-bank sentral, serta meningkatnya kepemilikan Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis emas.
Dari sisi kebijakan moneter, notulen pertemuan Federal Reserve bulan Desember mengungkapkan bahwa mayoritas pejabat bank sentral AS menilai pemangkasan suku bunga lebih lanjut masih tepat untuk dilakukan apabila tingkat inflasi terus turun. Meski demikian, masih terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga.
Sementara itu, situasi geopolitik global turut menjadi penopang utama permintaan emas. Ketidakpastian terkait kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, serta memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela membuat investor semakin mencari perlindungan pada aset safe haven.
