Yen Jepang melemah ke sekitar level 156 per Dolar AS sementara para investor mencermati arah kebijakan fiskal Jepang yang dinilai semakin ekspansif.
Pemerintah Jepang baru-baru ini menyetujui anggaran negara dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah – 122,3 triliun Yen – yang diajukan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Anggaran tersebut dirancang untuk tetap mendorong belanja fiskal agresif sekaligus menjaga pengelolaan utang, antara lain dengan menekan penerbitan obligasi baru. Meski demikian, kondisi fiskal Jepang masih menjadi perhatian para investor, mengingat total utang publik Jepang telah melampaui dua kali lipat ukuran perekonomiannya. Situasi ini membatasi ruang gerak pemerintah untuk meluncurkan stimulus besar tanpa menambah tekanan pada stabilitas keuangan.
Tekanan terhadap Yen sedikit mereda setelah muncul sinyal dari pemerintah Jepang terkait kemungkinan intervensi di pasar valuta asing. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan bahwa Jepang memiliki keleluasaan untuk bertindak jika terjadi pergerakan nilai tukar yang dinilai berlebihan.
Dari sisi kebijakan moneter, para investor kini menantikan potensi kenaikan suku bunga berikutnya yang diperkirakan terjadi pada bulan Juli. Namun, sejumlah analis memperkirakan keputusan tersebut bisa saja terjadi lebih cepat apabila pelemahan Yen berlanjut dan menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap stabilitas ekonomi.
