BerandaIstilahBackflush Costing

Backflush Costing

Apa itu Backflush Costing?

Backflush costing atau biaya arus balik adalah sistem biaya produk yang umumnya digunakan dalam sistem persediaan just-in-time (JIT). Singkatnya, ini adalah metode akuntansi yang mencatat biaya yang terkait dengan produksi suatu barang atau jasa hanya setelah barang atau jasa tersebut diproduksi, diselesaikan, atau dijual. Backflush costing juga biasa disebut sebagai akuntansi backflush.

Cara Kerja Backflush Costing 

“Flushing” biaya ke akhir proses produksi akan menghilangkan pelacakan biaya secara terperinci, seperti biaya bahan baku dan tenaga kerja, di seluruh proses produksi, yang merupakan fitur dari sistem biaya tradisional. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menyederhanakan proses pelacakan biaya, sehingga menghemat biaya akuntansi dan proses, tetapi juga dapat membatasi detail informasi yang disimpan perusahaan terkait dengan biaya individu untuk produksi dan penjualan.

Total biaya dari suatu proses produksi dicatat sekaligus, pada akhir proses. Oleh karena itu, perusahaan yang menggunakan backflush costing, terutama bekerja secara mundur, menghitung biaya produk setelah produk tersebut dijual, diselesaikan, atau dikirim. Untuk melakukan hal ini, perusahaan menetapkan biaya standar untuk barang yang mereka produksi. Terkadang biaya berbeda, sehingga perusahaan pada akhirnya perlu mengenali perbedaan biaya standar dan biaya aktual.

Biasanya, biaya produk dihitung selama berbagai tahap siklus produksi. Dengan mengeliminasi akun work-in-process (WIP), backflush costing dirancang untuk menyederhanakan proses akuntansi dan menghemat uang bisnis.

Kelebihan dan Kekurangan Backflush Costing

Secara teori, backflushing tampaknya merupakan cara yang masuk akal untuk menghindari banyak kerumitan yang terkait dengan pembebanan biaya ke produk dan inventaris. Dengan tidak mencatat biaya selama berbagai tahap produksi, perusahaan dapat menghemat waktu dan mengurangi biaya. Perusahaan yang mencari cara untuk mengurangi laba mereka dapat menggunakan backflush costing, tetapi ini tidak selalu merupakan metode akuntansi yang mudah untuk diterapkan.

Namun, backflush juga bisa menjadi tantangan untuk diterapkan dan bukan merupakan pilihan yang dapat dilakukan oleh semua perusahaan. Selain itu, ada beberapa peringatan besar lainnya: bisnis yang melakukan backflush costing tidak memiliki jejak audit yang berurutan dan mungkin tidak selalu sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum/generally accepted accounting principles (GAAP).

Pertimbangan Khusus

Perusahaan yang menggunakan backflush costing umumnya memenuhi tiga kondisi berikut:

  • Siklus produksi yang pendek: Backflush costing tidak boleh digunakan untuk barang yang membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Seiring berjalannya waktu, semakin sulit untuk menetapkan biaya standar secara akurat. 
  • Produk yang disesuaikan: Proses ini tidak cocok untuk fabrikasi produk yang disesuaikan karena hal ini memerlukan pembuatan bill of material yang unik untuk setiap item yang diproduksi.
  • Tingkat persediaan material rendah atau konstan: Ketika persediaan, susunan barang jadi yang dimiliki oleh perusahaan, jumlahnya sedikit, maka sebagian besar biaya produksi akan mengalir ke dalam harga pokok penjualan, dan tidak ditangguhkan sebagai biaya persediaan.

Baca Artikel Lainnya

Artikel Sebelumnya
Artikel Berikutnya